Begini Cara yang Tepat Sebelum Memulai Usaha Sampingan

Gambar: mentormepro
Memiliki usaha sampingan biasanya menjadi sebuah keharusan bagi banyak orang. Karena tidak sedikit yang menganggap bahwa itu semua cukup membantu dalam menunjang pekerjaan / bisnis utama mereka. Bisnis sampingan yang dimaksud adalah bentuk usaha tidak terlalu banyak menyita waktu, tapi masih menghasilkan keuntungan. Sekarang telah banyak sekali pilihan mengenai usaha sampingan yang dapat dikelola saat kita menjalankan pekerjaan utama, sehingga pengerjaannya pun lebih fleksibel. Bahkan bisa jadi usaha itu mampu sebagai hiburan yang dapat disesuaikan dengan hobi kita, agar tidak jenuh setelah menyelesaikan pekerjaan.

Di Amerika, sebanyak 12 % orang melakukan pekerjaannya secara full time, karena memiliki pekerjaan freelance ( pekerjaan lepas ) sebagai sampingan. Sementara di Inggris jumlah pekerja freelance diperkirakan sudah mencapai 1,88 juta jiwa, di Uni Eropa sendiri pekerja freelance meningkat 45 % dari tahun 2004 sampai dengan 2013. Semua jumlah tersebut telah membuktikan bahwa semakin banyak pekerja berantusias ingin mendapatkan penghasilan, selain penghasilan dari pekerjaan utama mereka.

Namun dalam memilih usaha sampingan ternyata juga harus mengetahui akan beberapa hal yang perlu diketahui. Maka perhatikanlah cara memilih usaha sampingan yang benar, agar tidak sampai salah dan membuat penghasilan utama Anda tetap aman.

1. Jenis Usaha Apa yang Ingin Anda Geluti ?
Bagi orang yang bekerja sebagai karyawan, mungkin penghasilan pokok setiap bulan dari pekerjaan itu hanya mampu untuk mencukupi kebutuhan bulanan. Di saat menginginkan sesuatu misalnya, tentunya harus benar-benar mengirit kemudian mengurangi jatah pengeluaran bulanan. Maka di sinilah usaha sampingan berada di garis paling depan / berperan menjadi solusi permasalahan itu. 

Dalam memulai usaha sampingan, haruslah memikirkan usaha apa yang akan dijalankan. Caranya mudah, tinggal tentukan usaha apa yang disukai dan lakukanlah. Pilihlah usaha sekiranya Anda mempunyai keterampilan di bidang itu. Dan Ingatlah bahwa “ Ini hanya Usaha Sampingan  ”, jadi jangan sampai usaha tersebut mengganggu pekerjaan utama meski dari sisi penghasilan jauh lebih besar. 

2. Selaraskan dengan Hobi dan Passion
Orang bilang “ Jenis pekerjaan paling menyenangkan yaitu hobi yang dibayar ”. Memang ungkapan tersebut 100 persen benar dan telah banyak buktinya. Bayangkan saja selain bisa mengerjakan hobi kesukaan, Anda mampu mendapatkan pundi-pundi uang. Lalu apa bedanya Hobi dan Passion ? Hobi adalah kegiatan yang apabila dilakukan, Anda akan merasa senang. Sedangkan Passion lebih mengarah kepada jati diri atau jalan yang diinginkan. Anda sangat suka bermain futsal, maka itulah yang disebut hobi. Bedakan dengan Anda lebih menyukai jualan bahan bangunan dari pada membuat warung makan. Maka bentuk semacam inilah yang disebut Passion. Misal saya mempunyai hobi futsal, namun masih terikat pekerjaan, selanjutnya saya berniat menjadikan futsal sebagai ladang uang yang bisa menunjang pekerjaan utama. Dari hobi itu, saya bisa mengembangkannya menjadi usaha-usaha kecil seperti jualan kostum futsal, bola, peralatan futsal maupun usaha yang membutuhkan modal besar seperti membuat lapangan futsal.

3. Apa Tren yang Sedang Berkembang ?
Mempelajari tren yang sedang berkembang, mutlak harus dilakukan oleh pelaku bisnis manapun. Walaupun tren penjualan suatu produk terkadang hanya bertahan beberapa waktu, tapi demikian juga patut dicoba untuk memaksimalkan keuntungan. Masyarakat cenderung mengonsumsi barang-barang yang menjadi tren pada suatu waktu, “ tidak mengonsumsi barang tren sudah berarti ketinggalan zaman ”. Istilah “ Up to date ” merupakan pilihan wajib bagi pelaku bisnis kreatif. 

Harga barang tren pada waktu tertentu cenderung lebih mahal karena konsumen yang mencarinya juga lebih banyak. Hal ini tentu menjadi peluang bisnis tersendiri bagi yang ingin membuka usaha sampingan. Pada awal tahun 2016, ada wabah tren yang menjangkit masyarakat Indonesia yaitu fenomena batu akik. Pada saat itu batu akik benar-benar berada pada tingkat konsumsi sangat tinggi dibandingkan tahun – tahun sebelumnya. Apabila cerdas memanfaatkan peluang pada saat itu, tanpa harus menyita waktu terlalu banyak Anda bisa berjualan batu akik. Caranya adalah dengan berjualan batu akik sistem Online, atau bisa dengan sistem pre-order. Pastinya keuntungan finansial akan mengalir deras ke dompet apabila tahu betul strategi pemasaran yang baik, meski itu hanya memanfaatkan tren sesaat.
Gambar: lobsterdigitalmarketing
4. Apa Strategi Pemasaran yang Anda Gunakan ?
Memilih usaha sampingan disaat kita mempunyai pekerjaan primer yang cukup menyita waktu memang terasa sangat berat. Bagaimana kita harus membagi waktu dan pikiran untuk dua hal yang sedang ditekuni ? Bagaimana apabila satu dari pekerjaan tersebut tidak jalan ? Dan bagaimana apabila kedua pekerjaan yang digeluti terganggu?. Buatlah diri senyaman mungkin dalam mengerjakannya. 

Sudah tentu segala bentuk pekerjaan akan menyita waktu. Lalu bagaimana cara mengatur waktu agar selama 24 jam dapat digunakan untuk mengerjakan pekerjaan utama, bisnis sampingan, dan kegiatan rutinitas sehari – hari ? Tentunya strategi pemasaran untuk usaha sampingan harus sesuai dengan keterbatasan waktu. Buatlah rancangan strategi STP ( Segmenting, Targetting, Positioning ) sederhana, sehingga Anda tahu apa tujuan memasarkan produk dan mau dibawa kemana bisnis sampingan itu. Akankah hanya berupa bisnis sampingan sederhana dengan hasil yang sederhana pula, ataukah akan dibesarkan menjadi bisnis pokok dengan hasil yang lumayan besar.

5. Modal
Kembali di sini modal merupakan faktor penting untuk memulai suatu usaha, karena tidak ada usaha tanpa modal. Oleh karenanya, menyesuaikan kemampuan modal menjadi cara paling utama sebelum memilih usaha sampingan tersebut. Tentunya bisnis dengan modal besar berpotensi memiliki keuntungan besar pula, meski juga akan banyak sekali risikonya. Sehingga bagi yang tidak ingin bisnis sampingan dengan risiko yang besar, maka mulailah dengan bermodal minim. Sekarang ini telah banyak sekali bisnis yang cocok dijadikan sampingan dengan modal kecil, seperti usaha jualan pulsa, membuka gerai makanan / minuman, bisnis online, dan lainnya. Apabila menginginkan penghasilan lebih besar, maka bisa mencoba membeli gerai Retail, menjadi Supplier, atau membuat bisnis  dengan sistem otomatis.
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  M. Fais

Cobalah 5 Tips Jitu Ini Sebelum Memilih Waralaba ( Franchise )

Gambar: khilonewala
Anda ingin punya bisnis tapi masih bingung bisnis apa yang akan dikerjakan? Bagaimana ketika bisnis itu dimulai gagal? Jangan khawatir, sekarang telah ada jenis bisnis yang menawarkan sistem bisnis tanpa Anda memulainya dari nol. Bisnis tersebut adalah bisnis franchise atau waralaba. Menurut Keputusan menteri Perindustrian dan Perdagangan Republik Indonesia No. 259 MPP/Kep/1997 tentang Ketentuan dan Tata Cara Pelaksanaan Pendaftaran Usaha Waralaba adalah jenis usaha dimana salah satu pihak diberikan kewenangan untuk memakai dan memanfaatkan penemuan atau ciri khas atas suatu usaha yang dimiliki oleh pihak lain, dengan perjanjian imbalan yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak untuk penjualan dan penyediaan bahan. Walaupun bisnis waralaba telah ada lebih dari 70 tahun lalu, namun di Indonesia sendiri bisnis ini baru menjadi tren akhir-akhir ini. Telah banyak sekali jenis waralaba menawarkan berbagai macam produk, mulai dari makanan, minuman, retail barang, dan sebagainya. 

Risiko kegagalan dari bisnis waralaba relatif lebih kecil dibandingkan dengan ketika Anda memulai bisnis dari nol. Karena pihak pemilik waralaba ( franchisor ) telah meminimalisir risiko, karena telah membuat sistem sedemikian rupa guna mendukung pihak investor ( franchisee ) dalam menyediakan segala kebutuhannya mulai dari sistem, bahan baku, standar kerja, promosi, perizinan, dan lain-lain. 

Meski di Indonesia persentase keberhasilan bisnis waralaba relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan tingkat keberhasilan bisnis sejenis di negeri asalnya, yaitu Amerika Serikat, yang mampu mencapai 90 %, Indonesia tingkat keberhasilan waralaba hanya berada pada persentase 60 %. Salah satu penyebab banyaknya kegagalan bisnis waralaba tersebut karena banyaknya pelaku bisnis yang terlalu cepat memutuskan untuk menawarkan konsep kerja sama tanpa pondasi yang baik.  Tentunya demikian bisa menjadi bahan evaluasi bagi pelaku bisnis yang ingin membeli franchise. Untuk itu kami memberikan bahan pertimbangan agar jangan sampai salah dalam memilih waralaba. 

Berikut adalah hal-hal yang perlu diperhatikan dalam memilih bisnis waralaba : 

1. Bagaimana Image Waralaba di Mata Konsumen ?
Sejauh apa perhatian konsumen terhadap bisnis waralaba yang Anda minati ? Apa yang konsumen pikirkan tentang waralaba tersebut, apakah baik atau buruk. Apabila waralaba tersebut mempunyai market share yang baik di suatu daerah, Anda bisa mempertimbangkan untuk memilih waralaba tersebut. Bisa juga melihat waralaba berdasarkan kualitas produk yang dihasilkannya. Sebagai contoh apabila waralaba tersebut menghasilkan produk makanan atau minuman maka pertimbangannya adalah bagaimana rasanya, apakah enak atau tidak?. Anda di sini harus bermain aman dalam menentukannya, sebaiknya jangan coba-coba dalam memilih, karena hal ini dapat berpengaruh terhadap untung rugi dan ketahanan bisnis. Pastikan hanya memilih waralaba yang mempunyai image positif di mata konsumen. 

2. Bagaimana Sistem Bisnis Waralaba ?
Bagaimanakah sistem kerja bisnis waralaba yang Anda minati ? Bagaimana sistem pengadaan bahan baku dari pemilik waralaba? Bagaimana pengadaan alat-alat produksinya? Hal-hal tersebut mutlak diketahui sebelum memutuskan menjalankan bisnis waralaba. Tanyakan hal-hal tersebut kepada pemilik waralaba ( franchisor ). Biasanya sistem pengadaan bahan baku dan alat-alat produksi tergantung dari kebijakan franchisor. Apakah mereka menyediakan bahan baku dan peralatan langsung atau hanya menyediakan peralatan tanpa menyuplai bahan baku? Itu harus diperhitungkan pula. Sekarang ini sudah banyak jenis dari bisnis waralaba, mulai dari harus membayar royalti penggunaan merek, sampai tidak diharuskan untuk membayar royalti namun diwajibkan untuk membeli bahan baku kepada franchisor. Ada juga waralaba di mana Anda hanya diperbolehkan menggunakan hak merek untuk waktu tertentu, setelah waktunya habis diharuskan memperbaharui izin penggunaannya kembali.
Gambar: franchisemarketingsystems
3. Di manakah Lokasi Bisnis Anda?
Sekali lagi apapun jenis bisnisnya, lokasi memang menjadi faktor penentu utama. Seberapa dekat lokasi bisnis dengan konsumen dan bahan baku ? Seberapa sering intensitas konsumsi yang ada di daerah tersebut, seberapa lengkap fasilitas yang mendukung segala kebutuhan bisnis ?, maka pertimbangkan hal-hal tersebut dengan baik. Pilihlah lokasi bisnis yang dekat dengan konsumen dan mempunyai intensitas konsumsi yang relatif tinggi, serta pilihlah lokasi bisnis yang mempunyai fasilitas-fasilitas pendukung operasional bisnis Anda.

4. Apa Produknya ?
Sudah tentu berbisnis berarti menjual produk. Tinggal bagaimana apakah produknya bisa bersaing dengan produk sejenis yang ada di pasaran atau tidak. Dan bagaimana Anda mengolah produk, sehingga dapat berdiri sejajar dengan produk lain atau minimal dapat bersaing di pasaran, serta kelebihan dan manfaat produk wajib untuk ditonjolkan. Bagaimana memilih waralaba yang mempunyai produk dapat bersaing di pasaran? Untuk kasus ini harus melakukan survei pasar terlebih dahulu, bagaimana kecenderungan konsumen terhadap bisnis waralaba yang Anda minati. 

5. Apakah Budget Mencukupi ?
Di sini baru kita membicarakan seberapa besar modal yang dimiliki. Tidak semua bisnis yang sukses harus mengeluarkan modal besar. Namun modal juga menentukan bagaimana perkembangan bisnis kedepannya. Biasanya franchisor menentukan seberapa mahal bisnis waralaba mereka berdasarkan image waralaba mereka, SOP ( Standar Operasional Prosedur ), sistem bisnisnya, serta alat-alat produksi yang dibutuhkan. Sebagai contoh owner dari KFC ( Kentucky Fried Chicken ) berani untuk menjual gerainya sangat mahal, namun banyak orang dari berbagai negara bersedia membelinya karena salah satu alasan adalah dari image, SOP, serta sistem bisnis  yang dimiliki KFC sudah terbukti baik.
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  M. fais

Perhatikan Langkah Penting Ini Sebelum Memulai Bisnis

Gambar: timesofmalta
Keinginan untuk memiliki bisnis yang beromset besar menjadi hal yang didambakan sebagian besar orang. Namun sebagian orang tidak mengerti hal apa yang harus mereka lakukan untuk membentuk bisnis yang bagus. Sebagian yang lain mempunyai konsep sangat bagus dan komprehensif untuk memulai bisnis yang berkelanjutan, namun tidak tahu cara untuk merealisasikannya. Dan sebagian pula nekat untuk memulai bisnis tanpa ada persiapan dan terkesan asal-asalan, pada akhirnya membuat bisnis mereka tidak bertahan lama. Walaupun ada pembisnis sukses dengan modal nekat tanpa konsep yang baik, namun itu pun jumlahnya sangat sedikit. Bisa jadi mereka membutuhkan waktu sangat lama untuk membangun bisnis mereka menjadi bisnis yang baik. 

Dalam membangun sebuah bisnis yang bagus ada beberapa hal yang harus diperhatikan. Anda harus mengenali seperti apa bisnis yang akan dibuat. Catat semua kekurangan dan kelebihan dari bisnis Anda, kemudian evaluasi kekurangan-kekurangannya. Evaluasi dan monitorlah bisnis secara berkala, karena tidak mungkin akan terjadi pergeseran tren yang bisa membuat produk dari bisnis Anda kurang relevan lagi untuk dilepas di pasaran. 

Hal-hal yang harus diperhatikan sebelum memulai bisnis adalah :

1. Produk
Kenapa produk? Jelas sebuah bisnis harus mempunyai produk, baik itu dalam bentuk barang atau jasa. Kenali produk yang Anda produksi, hal itu akan membantu membuat produk yang unggul dan dapat bersaing di pasaran. Kenali juga produk-produk pesaing yang terlebih dahulu beredar di pasaran, serta siapa yang menguasai pasar di daerah yang akan dijadikan target pasar. Apa kelebihan dan kekurangan dari produk mereka, dan buatlah produk unik / berbeda dari produk pesaing. Bisa juga memanfaatkan kekurangan dari produk pesaing dan perbaikilah, sehingga konsumen yang tidak suka akan adanya kekurangan bisa beralih ke produk Anda. 

Jenis produk seperti apa yang akan diproduksi? Setiap jenis produk akan selalu berbeda cara penanganan, penyimpanan, dan maintenance-nya. Sebagai gambaran, produk pertanian akan berbeda cara penyimpanan dengan produk bangunan. Produk yang berasal dari pertanian memiliki umur simpan tidak terlalu lama serta harus segera dipasarkan. Bisa jadi suhu atau tekanan ruangan penyimpanan berpengaruh terhadap produk. Karena suhu atau tekanan yang tidak tepat dapat mempercepat produk pertanian mengalami kerusakan. Sementara untuk produk bangunan, suhu atau tekanan ruangan penyimpanan relatif tidak mempengaruhi dari umur simpannya.

2. Modal
Walaupun ada bisnis yang bisa berjalan tanpa modal, namun secara umum modal dalam sebuah bisnis memang mutlak harus ada. Besaran modal menentukan seberapa besar dan kompleks bisnis yang akan didirikan. Untuk memulai bisnis, modal dibutuhkan untuk mendirikan bangunan, membeli atau menyewa tempat, membayar gaji pekerja, kebutuhan listrik, air, maupun membeli mesin dan peralatan produksi. Sumber modal terdapat berbagai macam, seperti modal dari pinjaman, investasi, atau modal sendiri. Mengetahui seberapa besar modal yang harus dikeluarkan akan lebih baik, agar terhindar dari pengeluaran terlalu besar. Untuk itu harus mencatat detail apa saja yang benar-benar dibutuhkan sekiranya mengeluarkan modal lebih. 
Gambar: entrepreneur
3. Bahan Baku
Bagi bisnis yang membutuhkan proses produksi untuk menghasilkan produk, bahan baku adalah mutlak untuk diperhatikan. Baik bahan baku utama atau bahan baku tambahan harus tersedia dengan baik. Perlu dipersiapkan pula untuk penanganan bahan baku agar jangan sampai rusak sebelum sampai kepada proses produksi. Karena hal tersebut dapat mempengaruhi seberapa sesuai kapasitas produksi, apakah sesuai dengan yang diinginkan atau tidak. Sebaiknya bangunlah ruangan khusus penyimpanan ( Storage ) bahan baku, sehingga dapat memudahkan memanajemen perpindahan bahan dari storage ke ruang produksi. Pertimbangan utamanya adalah memilih bahan baku dengan harga seminimal mungkin, dengan kualitas sebaik mungkin, serta kontinuitas bahan yang baik.

Harga bahan baku yang tidak terlalu mahal dapat membantu Anda untuk lebih menghemat anggaran pengadaan, sehingga modal yang ada dapat dialokasikan untuk hal lain seperti promosi atau pembelian mesin. Bahan pengganti atau substitusi juga harus diperhitungkan agar suatu saat bahan baku utama mengalami kelangkaan di pasaran atau mengalami kenaikan harga yang signifikan Anda bisa menggunakan bahan substitusi tersebut. Untuk mendapatkan produk hasil yang baik, maka kualitas bahan baku harus baik pula. Indikator kualitas dapat dilihat dari penampakan luar ( penampakan sensoris untuk produk hasil pertanian ), umur simpan, daya tahan, ataupun bahan penyusunnya. Kualitas bahan baku juga berguna untuk menentukan harga produk akhir nantinya. 

Satu hal lagi yang harus diperhitungkan adalah kontinuitas bahan baku. Saat memilih bahan baku, sebaiknya bahan baku tersebut memiliki kontinuitas yang baik di pasaran, sehingga tidak sampai mengganggu jalannya proses produksi. Sebagai catatan untuk bahan pertanian, mungkin kontinuitasnya tergantung dari musim panen bahan tersebut. Namun untuk sebagian industri  makanan menyiasati habisnya stok bahan baku dengan mengganti bahan baku utama dengan bahan substitusi, dan menghasilkan produk lain namun masih sejenis dengan produk utama. 

4. Strategi Pemasaran
Dalam dunia bisnis kita mengenal strategi STP ( Segmenting, Targetting, dan Positioning ). Segmenting berkaitan erat dengan segmen pasar yang dituju. Anda bisa membagi segmen pasar menjadi beberapa kategori, seperti segmen pasar berdasarkan umur, letak geografis, penghasilan, atau gaya hidup konsumen. Setelah proses segmenting selesai, maka selanjutnya yang harus dilakukan adalah membidik segmen tersebut ( targetting ). Misalkan menggunakan kategori segmen pasar umur dengan target umur anak-anak, maka hanya perlu memfokuskan produk sesuai dengan target pasar tersebut. Hal ini akan membantu suatu bisnis dalam mendapatkan customer base ( basis konsumen ) yang membuat konsumen melakukan repeat order ( pembelian kembali ).

Apabila target pasar yang dituju sudah jelas, maka selanjutnya hanya perlu menyampaikan produk kepada konsumen. Yaitu apa yang membedakan produk Anda dengan produk sejenis dari produsen lain, apa kelebihan produk anda, serta manfaat apa yang bisa diperoleh oleh konsumen dari membeli produk Anda.

5. Supplier dan Jalur Distribusi
Dari mana produsen bisa mendapatkan bahan baku? Tentu dari suppier. Supplier adalah pihak yang selalu berhubungan dengan produsen dalam hal pengadaan bahan baku. Pilihlah supplier yang baik dan berkompeten. Pilih supplier yang menghasilkan bahan baku dengan kualitas sesuai dengan keinginan / kebutuhan produksi. Kalau bisa pilih supplier dengan kontinuitas bahan baku yang terjaga. Bisa juga memakai suppier lebih dari satu, dengan tujuan untuk berjaga-jaga apabila kualitas bahan baku di supplier utama mengalami penurunan atau Anda membutuhkan bahan baku dengan jumlah sangat besar / tidak bisa dipenuhi oleh supplier utama. Pertimbangan dalam memilih supplier adalah jarak supplier dari lokasi produksi, harga bahan baku, dan kualitas bahan baku yang dihasilkan.

Untuk menyampaikan produk ke konsumen biasanya digunakan distributor. Distributor di sini bermacam-macam bentuknya tergantung dari kerumitan jalur distribusi. Ada distributor besar ( grosir ), yaitu pihak yang membeli atau mendistribusikan produk dalam jumlah yang besar, distributor kecil ( retailer ) atau distributor yang membeli produk dari distributor besar dalam jumlah relatif sedikit, selanjutnya mendistribusikannya pada konsumen. Ada juga jenis distributor yang mempertemukan antara penjual dan pembeli secara langsung, namun tidak bertanggung jawab terhadap kondisi barang, atau biasa disebut Distributor Perantara. 
Ditulis Oleh: Arbamedia  /  M. Fais

Contoh Aset yang Bisa Jadi Passive Income untuk Anda

Gambar: lindadominiquegrosvenor
Sudah menjadi hukum tetap apabila kita ingin mendapatkan uang, kita harus bekerja dan terjun langsung melakukan pekerjaan tersebut. Namun tahukah Anda, tidak semua kegiatan bisnis harus dilakukan dengan terjun langsung dan rela menghabiskan waktu seharian?. Seiring roda waktu terus berputar, semakin beragam pula metode yang bisa digunakan untuk mendapatkan pundi-pundi uang. Kali ini akan dibahas mengenai sumber aset yang bisa digunakan untuk mendapatkan uang yang tidak mengharuskan terjun langsung ke dalam kegiatan operasi. 

Bagaimana bisa kita mendapatkan uang tanpa harus bekerja keras? Dari mana datangnya uang tersebut? Uang tersebut halal atau haram?. Pertanyaan-pertanyaan tersebut wajar terlontar apabila Anda tidak tahu bagaimana sistem kerja aset berjalan. Bagi sebagian orang pembisnis dengan sistem tradisional, aset menjadi hal yang tabu dan bukan menjadi prioritas. 

Namun sekarang, hampir setiap pembisnis menaruh perhatian mereka terhadap aset yang dapat menghasilkan keuntungan besar, memiliki sistem kerja fleksibel, dan sistem operasi yang cocok untuk mereka. Untuk itu kami menyajikan informasi yang dapat menjadi bahan pertimbangan buat Anda sebelum mengambil keputusan dalam melakukan investasi berupa aset.

1. Bisnis yang Berjalan Otomatis
Apakah bisa bisnis berjalan secara otomatis tanpa membutuhkan campur tangan kita sebagai Owner? Jawabannya adalah bisa, dengan syarat mempunyai sistem bisnis telah dirancang guna menjadi bisnis otomatis. Bisnis otomatis adalah jenis bisnis dimana sebagai pemiliknya tidak harus ikut andil ke dalam kegiatan operasional. Biasanya yang perlu dilakukan hanyalah menyiapkan fasilitas bisnis, untuk operasionalnya akan dilakukan oleh pekerja yang telah disewa. 

Jenis bisnis otomatis yang menjadi tren adalah waralaba (franchise). Menurut Asosiasi Franchise Indonesia, “ waralaba adalah suatu sistem pendistribusian barang atau jasa kepada pelanggan akhir dengan pengwaralaba (franchisor) yang memberikan hak kepada individu atau perusahaan untuk melaksanakan bisnis dengan merek, nama, sistem, prosedur dan cara-cara yang telah ditetapkan sebelumnya dalam jangka waktu tertentu dan meliputi area tertentu ”. 

Proses operasional kita akan sama seperti dengan pengwaralaba lain yang mengambil Brand sama dengan kita. 

Contoh bisnis jenis waralaba yang telah mendunia adalah Mc Donald Fried Chicken dan KFC. Sistem operasional McD atau KFC di cabang yang satu sama dengan sistem operasional di cabang lainnya seluruh dunia. Contoh waralaba Nusantara paling menonjol yaitu Indomaret dan Alfamart. Disini mungkin kita membutuhkan modal uang untuk bisa mendapatkan bisnis dengan sistem waralaba. Selanjutnya harus menyediakan tempat yang digunakan untuk meletakkan waralaba. 

Selain bisnis dengan bentuk waralaba, dapat pula membangun bisnis sendiri yang didesain menggunakan sistem otomatis untuk mendapatkan Passive Income. Contohnya, membangun sebuah warung / rumah makan, sehingga warung itu dapat berjalan tanpa ada campur tangan Anda. Maka warung makan tersebut telah berjalan secara otomatis bukan…?

2. Properti yang Disewakan
Gambar: dubai-lawyers
Anda juga bisa mendapatkan uang dari aset properti yang dimiliki. Lantas, bagaimana caranya..?  Sewakan saja properti-properti itu menjadi seperti hunian untuk tempat kos, toko, dibangun supaya dapat disewakan, tanah untuk tempat dagang sementara, atau berupa apartemen yang kita miliki. Bayangkan saja jika mempunyai hunian 5 kamar yang disewakan untuk tempat kos. 1 kamarnya dihargai 600 ribu per bulan, maka apabila kamar kos terisi penuh, maka hasilnya bisa mendapatkan uang 5 x 600 ribu = 3 juta rupiah setiap bulannya. Tentu itu semua belum termasuk potongan-potongan seperti biaya listrik, PDAM, asisten rumah tangga, dan lain-lain. 

Dapat juga menyewakan ruko sebagai tempat jualan orang lain. Untuk pembangunan ruko, sebaiknya harus mempertimbangkan mendirikan ruko di tempat yang strategis karena orang akan mempertimbangkan untuk menyewa toko di lokasi dimana konsumen melimpah. Dengan semakin banyaknya kebutuhan akan ruangan, bahkan tanah pun dapat dijadikan sebagai sumber aset untuk menghasilkan Passive Income. Kebanyakan orang yang menyewa tanah, yaitu para pedagang yang hanya membutuhkan ruang untuk menaruh fasilitas dagang mereka tanpa membutuhkan ruang luas.

3. Investasi Surat-Surat Berharga (Saham dan Reksa Dana)
Investasi surat-surat berharga tidak membutuhkan bisnis atau properti dalam bentuk konkret. Tapi, yang dibutuhkan hanyalah modal berupa uang untuk membeli porsi reksa dana yang ditetapkan oleh manajer investasi reksa dana, atau membeli hak kepemilikan saham atas suatu perusahaan. Anda bisa mendapatkan Passive Income dari hak kepemilikan atas reksa dana / saham tersebut. 

Menurut Undang-Undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995, “ Reksa dana adalah wadah untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal yang selanjutnya diinvestasikan kembali ke dalam portofolio efek oleh manajemen investasi ”. 

Secara garis besar reksa dana dibagi menjadi reksa dana Konvensional dan reksa dana Syariah. Bagi orang yang tidak menginginkan uangnya diinvestasikan untuk bisnis-bisnis haram, biasanya akan memilih reksa dana Syariah. Pertumbuhan dari bunga reksa dana juga bermacam-macam tergantung tingkat risiko investasi. Biasanya reksa dana memiliki risiko kecil serta mempunyai tingkat pertumbuhan bunga yang kecil pula, begitu juga sebaliknya. 

Anda juga bisa mendapatkan sebagian hak milik atas perusahaan dengan membeli saham. Sebenarnya berinvestasi melalui saham hampir sama dengan berinvestasi properti. Jika berinvestasi properti, Anda mendapatkan penghasilan ( passive income ) dari harga sewa yang telah ditetapkan sebelumnya. Kalau berinvestasi melalui kepemilikan saham, maka pendapatan passive income -nya dari pembagian deviden tunai atau kenaikan harga saham. Setiap periode tertentu para pemegang saham akan menentukan besaran persentase laba bersih yang akan dibagikan untuk para pemegang saham. Selanjutnya akan ditentukan besaran laba yang akan diinvestasikan kembali sebagai tambahan modal perusahaan.

4. Royalti
Gambar: investopedia
Royalti yang dimaksud di sini berupa bayaran atau upah yang diberikan kepada umumnya seniman seperti penulis buku, penulis lagu, atau insan-insan kreatif lainnya. Royalti menjadi penghargaan atas hak cipta yang mereka buat atas sebuah produk seni yang telah mereka ciptakan. Seorang penulis buku berhak mendapatkan royalti  berasal dari buku yang telah ia tulis. 

Tidak hanya profesi penulis buku yang mendapatkan royalti, namun musisi ( penulis lagu ) juga mendapatkan passive income dari lagu yang mereka ciptakan. Saat lagu itu diputar sebagai Sound Track di media-media seperti radio atau televisi, maka dari situlah sumber income berasal. Royalti akan terus dibayarkan selama lagu yang diciptakan masih tetap diperdengarkan. Nah, bagi Anda yang mempunyai sisi kreatif sebagai penulis buku atau penulis lagu, janganlah khawatir akan anggapan masyarakat bahwa penulis buku atau penulis lagu adalah profesi tidak menjanjikan. Selama karya Anda bagus dan layak untuk dihargai, tentu profesi-profesi tersebut dapat mendatangkan passive income yang besar.

5. Network Marketing
Kita sering menyebut Network Marketing sebagai Multi Level Marketing ( MLM ). Namun dewasa ini terdapat berbagai masalah terkait dengan melesetnya fungsi sebenarnya dari MLM. Banyak yang tidak memprioritaskan mengenai bagaimana kualitas produk dibangun, tapi mereka tetap menginginkan sistem bisnisnya tetap berjalan. Hal inilah yang menjadikan banyak MLM sekarang ini hanya berkedok “ menjadi kaya dengan cepat ” Padahal sebenarnya hanyalah investasi bodong yang hanya bertujuan untuk menipu investornya. 

Terlepas dari berbagai kontroversinya, namun jenis aset yang satu ini memang terbukti mampu menghasilkan passive income bagi penginvesnya. MLM telah banyak mencetak milyarder dari berbagai macam produk. Sebelum melakukan investasi ini, sebaiknya mengecek dulu apakah perusahaan tersebut memiliki jaringan support sistem yang baik, karena tidak semua perusahaan MLM memiliki jaringan ini. Di Indonesia sendiri, pastikan bahwa perusahaan tersebut terdaftar ke dalam Asosiasi Penjualan Langsung Indonesia ( APLI ) dan tidak terdaftar sebagai daftar hitam OJK ( Otoritas Jasa Keuangan ).
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  M. Fais

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan dalam Melakukan Investasi Tanah

Gambar: wmaproperty
Dewasa ini bukan hal yang rahasia apabila banyak orang yang mencari tambahan pundi-pundi uang mereka dengan cara investasi. Banyak dari pembisnis yang berpikiran untuk mendapatkan keuntungan tanpa harus melakukan kegiatan bisnis. Berbagai pilihan investasi ditawarkan dengan beragam tingkat keuntungan dan manfaat, seperti investasi melalui deposito bank, reksa dana, mata uang asing, properti, saham, obligasi, ataupun investasi emas. Salah satu jenis investasi yang mendatangkan keuntungan paling besar dan menjadi tren saat ini adalah investasi properti dalam bentuk tanah. 

Dari tanah kita dapat meningkatkan fungsinya menjadi beberapa bentuk seperti tempat kos, ruko, kontrakan, atau rumah hunian. Investasi tanah semakin berkembang didukung dari semakin banyaknya permintaan masyarakat dan meningkatnya populasi penduduk dari waktu kewaktu. Namun memilih berinvestasi properti bukan berarti tidak ada risiko. Anda harus mengetahui hal-hal ini agar dalam melakukan investasi tidak salah langkah, serta dapat menghasilkan keuntungan sesuai keinginan Anda.

1. Lokasi 
Lokasi di mana tanah berada sangat menentukan seberapa besar keuntungannya. Tanah mempunyai prospek keuntungan yang baik apabila berada pada daerah yang strategis. Dalam artian dekat dengan perkotaan, pusat perbelanjaan, pemukiman warga, ataupun jalan raya. Sebagai contoh, tanah di perkotaan mempunyai nilai ekonomi yang baik, namun konsekuensinya adalah harga tanah relatif lebih mahal. Tanah di lokasi yang sedang atau masih dalam pengembangan dapat menjadi pilihan. Tanah di lokasi ini disebut juga sebagai tanah setengah matang. Contoh tanah setengah matang adalah tanah yang berada pada kawasan yang akan dikembangkan fasilitas-fasilitas umum, seperti minimarket, pom bensin, ataupun jalan raya. 

Dalam memilih lokasi tanah, Anda juga harus memperhitungkan tingkat keamanan tanah. Apakah tanah yang akan dibeli berada pada lokasi rawan bencana seperti banjir, tanah longsor atau gempa. Karena tanah pada lokasi rawan longsor mempunyai nilai ekonomi rendah serta prospek pengembangan yang kurang bagus / cenderung mengalami penurunan harga.

2. Kondisi Tanah
Sebelum membeli tanah, pastikan apakah tanah tersebut berada pada kondisi yang baik. Kondisi yang dimaksud meliputi bentuk tanah, ukuran tanah, kerataan / kepadatan tanah serta hadap tanah. Kebanyakan orang lebih menyukai tanah dengan kecenderungan bentuk persegi atau trapesium dari pada tanah dengan bentuk persegi. Hal ini karena tanah dengan bentuk tersebut lebih mudah didirikan bangunan apabila akan dialihgunakan. Walaupun begitu, bentuk tanah persegi panjang masih diminati apabila lebar muka tanah berada pada kisaran 40 – 80 persen dari panjang tanah.

Untuk ukuran tanah dapat disesuaikan dengan lokasi dan kondisi budgetnya. Biasanya pengusaha-pengusaha di perkotaan membutuhkan luas tanah yang relatif luas untuk membangun hunian yang mereka inginkan. Namun Anda sendiri dapat membeli tanah dengan ukuran yang lebih kecil apabila budget terbatas, ataupun tanah tersebut akan digunakan untuk membangun ruko dagang.

Setidaknya prioritaskan untuk membeli tanah yang rata dengan alasan untuk menghindari pengurukan yang dapat memakan biaya lebih. Sebagai contoh, akan lebih baik apabila membeli tanah pekarangan daripada sawah, karena tanah pekarangan lebih memungkinkan didirikan bangunan langsung daripada tanah di lokasi persawahan yang membutuhkan pengurukan terlebih dahulu.

Sementara untuk hadap tanah, orang lebih menyukai tanah yang menghadap ke arah utara atau selatan karena apabila dibangun rumah nanti, rumah tersebut dapat terkena sinar matahari secara merata.
Gambar: Thebalance
3. Legalitas dan Surat Tanah
Legalitas tanah berkaitan erat dengan hak atas tanah, yang meliputi hak milik, hak sewa, hak pakai, dan lain sebagainya. Apabila ingin membeli tanah untuk Anda miliki, maka harus mempunyai milik atas tanah tersebut. Namun apabila hanya berniat untuk menyewa tanah tersebut, maka Anda harus membutuhkan hak sewa. Yang perlu diperhatikan adalah kelengkapan surat dan sertifikat tanah tersebut harus jelas serta dapat dipertanggungjawabkan. Tanyakan mengenai hal tersebut kepada notaris atau pejabat terkait agar tanah yang dibeli tidak menimbulkan masalah dikemudian hari. Jangan sampai membeli tanah sengketa, tanah wakaf, atau tanah yang berada pada lokasi rencana pembangunan pemerintah / terkena penggusuran. 

Menurut UU No. 2 tahun 2012 tentang pengadaan tanah bagi pembangunan untuk kepentingan umum Pasal 5, Pihak yang berhak wajib melepaskan tanahnya pada saat pelaksanaan pengadaan tanah untuk kepentingan umum setelah ganti rugi berdasarkan Keputusan - keputusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum yang tetap.

Sehingga pihak yang berhak milik atas tanah tersebut harus merelakan tanahnya untuk proyek pembangunan kepentingan umum.

4. Biaya 
Apabila ingin membeli tanah, sesuaikan biaya pembelian tanah dengan luas tanah dan prospek pengembangannya. Namun biaya di sini bukan hanya biaya pembelian tanah, namun juga termasuk biaya administrasi dengan pihak Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT), lain-lain.

Dengan mengurus tanah melalui PPAT, maka legalitas kepemilikan tanah dapat selesai dengan cepat. Biaya yang dikeluarkan untuk biaya administrasi tersebut maksimal adalah 1 % dari harga transaksi tanah (Pasal 32 Ayat 1 PP 37/1998).

Namun pastikan juga pihak PPAT terjun dan mengecek secara langsung tanah yang akan dibeli, sehingga tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

5. Akses Jalan
Tanah yang bisa dijangkau oleh kendaraan khususnya mobil tentunya menjadi nilai tambah. Selain untuk mempermudah proses pembangunan, akses jalan juga sangat diperlukan untuk jalur lintas yang memudahkan bagi pemilik untuk keluar masuk apabila didirikan bangunan nantinya. Akses jalan juga sangat menunjang kelancaran bisnis sebagai jalur distribusi barang atau lalu lintas kendaraan-kendaraan produksi. Akses jalan yang sulit membuat tanah tidak mempunyai prospek pengembangan yang baik, serta tidak layak dijadikan sebagai lokasi bisnis karena nilai ekonominya yang cenderung rendah.
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  M. Fais

Hindari 9 Pemikiran yang Justru Dapat Menggagalkan Usaha Anda

image: startupnation.com
Menjadi pengusaha sukses merupakan dambaan bagi setiap orang. Merangkak dari modal minim sebagai langkah awal dalam memulainya, mencoba menerapkan skill untuk menunjang kemajuan usaha, mengatasi masalah secara profesional, dan memberanikan diri untuk menerjang risiko besar demi mengembangkan usaha agar bisa maju lebih pesat. 

Itulah beberapa lalu lintas pengusaha dalam mengiprahkan peranannya sebagai seorang pembisnis saat mengolah dari  setiap usaha yang dirintis, Baik di awal, pertengahan, maupun pada titik klimaks usaha tersebut berkembang. Dalam menggeluti dunia usaha, pasti tidak menutup kemungkinan seseorang dihujat oleh berbagai pemikiran. Mulai dari pola pikir mendukung, motivasi penyemangat, hingga sampai pemikiran yang justru malah melemahkan/menggagalkan usaha itu untuk berkembang. 

Sehingga kadang ungkapan “ Siapa Takut, Dia Akan Tenggelam ” mungkin sudah mengalir dalam jati diri seorang pembisnis. Kerap kali pikiran-pikiran negatif muncul dan terlintas pada saat-saat usaha itu sedang berjalan. Entah dikarenakan oleh problematika yang ada sebagai hambatan bagi mereka, maupun beban serta tanggungan berat yang mungkin jadi benalu serius bagi kemajuan usaha tersebut.

Namun secara garis besar dapat dijelaskan, bahwa untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan setiap usaha, hendaknya setiap pelaku bisnis haruslah kuat dalam menghadapi  tantangan yang ada. Apalagi menghadapi pemikiran-pemikiran buruk, kerap sekali menjadi momok ketika seseorang menjalankan bisnisnya.

Ada sembilan pemikiran buruk yang kerap terlintas dalam benak pikiran pembisnis, Maka sudah seharusnya dapat dicegah. Sehingga bagi Anda yang sedang menjalankan usaha tidak sampai dibuat “ Down ” oleh pemikiran - pemikiran berikut :

1. “ Kompetisi Ini lebih Berat Dari yang Dibayangkan, Mungkin Tidak Ada yang Mengambil Jasa atau Produk Saya ”
Apa benar begitu…?, Pasalnya besarnya kompetisi biasanya lebih erat dengan banyaknya jumlah konsumen atau klien yang membutuhkan jenis produk tersebut. Tentu anda mengetahui bahwa semakin banyak customer berkeinginan membeli maupun memiliki produk tertentu, Maka semakin besar pula jumlah pesaing atau perusahaan yang menyuguhkan jenis produk yang sama. 

Akhirnya, hal itu membuat tingkat kompetisi eksternal maupun internal menjadi tinggi atau terasa lebih berat. Mungkin terbesit dalam pikiran untuk mengundurkan diri dalam mengikuti kompetisi ini bukan…?. Itulah pola pikir yang kurang dibenarkan bagi setiap orang pembisnis. Karena seharusnya Anda merasa lebih tertantang untuk mengikuti kompetisi tersebut. 

Mungkinkah Anda bisa memenangkan kompetisi yang ada, Meski terasa berat….?

Jika sebuah produk maupun jasa sudah dirancang dan dijalankan, mungkinkah untuk ditarik kembali hanya dikarenakan oleh perasaan takut menghadapi kompetisi tersebut, semisal : Takut barang tidak laku di pasaran, merasa kualitas produk lebih rendah, dan sebagainya.

Sehingga semua itu membuat diri tidak memiliki keberanian dalam menjalankan bisnis. Ini tidak dibenarkan, karena pemikiran-pemikiran tersebut hanya akan meracuni mental dalam berbisnis.

Sebaiknya ambillah langkah tepat dengan terus mengikuti kompetisi, terus belajar meningkatkan kualitas produk, dan yakinkan diri anda dalam menjalaninya dengan penuh ketekatan. Karena kebutuhan akan tekad kuat dalam menghadapinya memang sangat diperlukan.  

2. “ Aku Bukanlah Tipe Orang yang Berhasil ”
Apakah hal demikian masuk akal bila belum mencoba sudah bilang “ Aku tergolong tipe orang tidak memiliki keberhasilan “…?, Itu juga tidak dibenarkan. Karena setiap keberhasilan bisa diraih sesuai dengan seberapa besar tekad dan perjuangan yang anda miliki saat ini.

Maka hapuslah pemikiran negatif tersebut, Karena pemikiran semacam ini hanya akan menghambat mentalitas diri saat  menjalankan bisnis atau usaha. Kemudian teruslah mencari solusi pada tiap-tiap pemasalahan, sehingga bisa menemukan titik terang sebagai jalan menuju kesuksesan.

Tidak menutup kemungkinan bahwa ketika produk atau jasa itu dibuat mengalami masalah berat, sehingga  tidak memungkinkan berkembang dikarenakan persentase pesaing jauh lebih unggul di depan mata. Bahkan, dengan adanya serangan produk dari pesaing bisnis secara bertubi-tubi itu, tiba-tiba menjadikan diri merasa tidak memiliki keberhasilan.

Namun janganlah khawatir, karena pada setiap hambatan yang berat, di situ pula telah disediakan penawarnya. Boleh-boleh saja mengakui bahwa produk atau jasa dari kompetitor lebih bagus, namun janganlah sampai putus asa untuk terus mengevaluasi kembali kualitas produk. Sehingga mampu menyuguhkan produk menjadi lebih berkualitas dan diminati konsumen.

3. “ Pengalaman dan Pengetahuan Saya Sedikit, Jadi Mana Mungkin Saya Bisa Sukses..? ”
Pemikiran semacam ini bisa saja menggagalkan upaya bisnis dalam mencapai keberhasilan.  Umpamanya anda berkeinginan untuk menjalankan bisnis dan jasa tertentu misalnya, namun dikarenakan pengetahuan serta pengalaman sedikit akan hal itu, menjadikan diri enggan untuk memenuhi keinginan tersebut. Akhirnya rasa takut akan terus menghantui pikiran, sehingga ide-ide cemerlang tidak dapat teraplikasikan.

Jadi, bagaimana bisa mencapai keberhasilan jika pikiran itu terus menyelimuti…?

Tentu pengalaman beserta pengetahuan memang menjadi peranan penting untuk mencapai keberhasilan, terlebih dalam menjalankan bisnis. Namun di situ juga ada yang lebih menentukan lagi, yakni tingkat keuletan yang tinggi. 

Sehingga tak perlu khawatir jika anda ingin berhasil dalam berbisnis, meski sementara hanya memiliki pengalaman atau pengetahuan minim. Apa salahnya mencoba sambil pelan-pelan kita mempelajari bisnis tersebut secara lebih mendalam. 

4. “ Bisnis Tersebut Terlalu Keras Untuk Dijalani ”
Bisa saja kegagalan pengusaha ini dipicu oleh kurangnya rasa optimis dan kesadaran diri akan usaha yang mereka rintis. Sebenarnya banyak sekali ide bagus telah tertuang dalam benak pikiran, namun karena adanya sifat selalu kurang percaya diri, akhirnya membuat seseorang berpikir “ Jenis Produk itu sangat susah dipasarkan “. Dikarenakan adanya statement inilah kerap kali menjadikan orang merasa takut berinovasi dalam menjalankan usaha.

Dengan tanpa adanya inovasi berkembang, akhirnya membuat seseorang kalah dalam persaingan, kemudian berakhir dengan kegagalan. Maukah anda mengalami hal semacam ini…? Tentu semua orang tidak mau mengalaminya.

Jadi hindarilah pemikiran negatif tersebut, Dan gantikanlah dengan wadah pemikiran positif serta penuh keyakinan, bahwa suatu saat Anda akan mampu mencapai titik puncak keberhasilan.
image: clkcpa.com

5. “ Terlalu Banyak yang Harus dikerjakan, Saya Tidak Mungkin Menyelesaikannya Semua ”
Setiap bisnis pasti dibarengi dengan langkah-langkah tepat untuk menjalankannya bukan…?. Dimana pada setiap langkah memiliki tingkat kesulitan usaha secara bervarian. Bayangkan saja, jika Anda sudah merasa kewalahan dalam mengerjakan semua itu, maka apakah hal itu tidak menjadikan diri merasa “ Down ”..?

Tumbuhkan rasa semangat dan jangan sampai putus di tengah jalan. Setiap menjalani langkah  usaha sudahlah wajar bila dibarengi dengan ketidaksempurnaan dan penuh kekurangan. Namun jangan sampai berhenti dari situ saja.

Perbaikilah selagi masih bisa diperbaiki, sehingga dapat mencapai tingkat kesempurnaan dalam menetapkan langkah sesuai keinginan yang diharapkan. Misalnya : Jika Anda masih kekurangan modal, maka carilah investor atau pihak lain untuk bekerjasama. Jika kekurangan pegawai profesional, Maka coba tanyakan kepada partner bisnis atau dapat mencarinya melalui berbagai informasi media.

6. “ Apa yang Dikatakan Teman-teman Saya Nantinya Jika Saya Menjalankan Bisnis Ini..? ”
Takut dibilang “ Usaha-mu merupakan jenis bisnis yang rentan sekali berakhir dengan kegagalan ”. Padahal Anda sudah yakin bahwa usaha itu merupakan jenis bisnis berpeluang memberikan penghasilan besar, meski risiko juga besar pula. 

Maka Bagaimanakah Langkah Untuk Menanggapi Anggapan Semacam Ini…?

Sebelumnya Anda bisa bertanya pada diri sendiri “ Sebenarnya yang ingin berhasil dalam menjalankan usaha itu Anda sendiri atau orang lain..?” Tentunya sudah tahu jawabannya.

Selama usaha itu memiliki dampak positif dan tidak memiliki dampak buruk bagi konsumen atau orang lain, Maka sah-sah saja menjalankannya bukan…?. Jika ada pihak memberikan statemen, baik dari orang lain atau teman mengenai usaha itu, maka tanggapilah secara bijak.
Tetaplah Anda menjadi orang yang selalu menerima kritikan serta ide-ide baru, namun jangan sampai termakan oleh hal tersebut, hingga sampai kehilangan rasa percaya diri dalam menjalankan bisnis.

7. “ Tingkat Keberhasilan Ini Bisa Tercapai Ketika Saya Sudah Tua, Maka Terlambat Sudah... ”
Khawatir tidak bisa menjadi pengusaha sukses di usia muda..?, Hal demikian juga merupakan pemikiran yang justru malah menggagalkan usaha anda saat ini. Seorang pengusaha haruslah memiliki langkah-langkah cerdas untuk menyetir pribadinya agar tidak sampai “ Down ” hanya gara-gara kesuksesan tidak kunjung berada di depan mata.

Kesabaran juga sangat dibutuhkan dalam hal ini. Namun hal demikian juga harus diimbangi dengan usaha yang gigih. Oleh karena itu, Jangan mudah berputus asa jika usaha itu belum lekas pada titik kesuksesan.

Setidaknya Anda harus memiliki pengendalian diri yang kuat, agar tidak sampai terkecoh dengan cara instan yang malah menjadikan usaha itu mengalami kemunduran. Ketekunan merupakan satu hal untuk diterapkan, selalu menghargai hasil jerih payah sendiri, meski itu kecil nilainya. Serta selalu berinovasi meningkatkan perkembangan bisnis, sehingga semuanya itu akan mampu mempercepat keberhasilan.

8. “ Aku Tidak Cukup Baik Dalam Menangani Persoalan ini ”
Dalam dunia bisnis pasti tidak lepas dari persoalan, baik internal maupun eksternal. Sebagai pengusaha, di situ akan dituntut untuk menuntaskan segala permasalahan yang ada. Sehingga jika semua persoalan dapat dituntaskan, maka perjalanan bisnis bisa berjalan normal dan sesuai dengan harapan.

Namun munculnya rasa kurang yakin dan percaya diri saat menghadapinya, juga tak menutup kemungkinan untuk menggagalkan jalan penyelesaian masalah. Oleh karena itu, janganlah merasa tidak mampu untuk menyelesaikannya secara sempurna, namun tetaplah berusaha yang terbaik untuk menanggulangi persoalannya.

9. “ Saya Tidak Pernah Menuju ke Titik Keberhasilan ”
Anggapan semacam ini juga sangat berpengaruh buruk pada titik sukses saat menjalankan usaha. Entah dengan sebab apa saja hingga sampai Anda berpikir “ Saya Tidak Akan Pernah Sukses ”. Maka ketika di tengah jalan kemudian berpikir demikian, berarti Anda termasuk orang putus asa. Jika Anda berpikir demikian sejak awal jalannya usaha, berarti termasuk orang yang tidak memiliki tekad kuat atau malas untuk berusaha.

Ingatlah bahwa, “ Jangan melebih-lebihkan kompetisi dan meremehkan diri sendiri. Dan yakinlah bahwa Anda lebih baik dari apa yang Anda pikirkan sekarang ”. Teruslah mencoba untuk berusaha disertai tekad, pantang menyerah saat menghadapi masalah, serta berusaha mencari solusi terbaik. Selain itu, selalu Apresiasi diri dengan hal-hal yang membuat tingkat kepercayaan diri meningkat, Sehingga Anda tetap bersemangat dalam menjalani usaha di segala situasi dan kondisi.