Panduan Sukses Para Pengusaha Ala “ Cashflow Quadrant ”

Gambar: englishbookgeorgia
Apakah Anda pernah dengar atau membaca buku berjudul The Cashflow Quadrant karya Robert T. Kiyosaki ? Bagi Anda yang pernah menempuh pendidikan akademik di bidang ekonomi atau bisnis, pastinya tidak asing dengan buku yang satu ini. Bahkan Cashflow Quadrant sering menjadi rujukan bagi pengusaha-pengusaha sukses dan buku ini sangat populer di pasaran. Lalu apa sih menariknya buku ini ? Kenapa banyak pengusaha sukses dan orang kaya yang menjadikannya sebagai rujukan? Lalu apa itu Cashflow Quadrant sendiri ?

The Cashflow Quadrant bisa ditemukan dari sisi kuadran manakah kita mendapatkan penghasilan. Pada intinya setiap jenis pekerjaan mempunyai sumber penghasilan berbeda. Pekerjaan seperti buruh, karyawan, guru, dokter, manajer, ataupun direktur adalah pekerjaan-pekerjaan dengan sumber penghasilan dari orang lain. Gaji mereka akan tetap setiap bulannya –kecuali kalau ada faktor lain seperti bonus. Golongan ini adalah golongan dimana anggotanya rela menggadaikan waktu dan tenaga mereka setiap hari, di jam dan tempat yang sama demi penghasilan mereka. Dalam kajian Cashflow, diagram golongan ini termasuk ke dalam kuadran E ( Employee / Karyawan ). Dan masih terdapat 3 kuadran lain bila dilihat dari segi sumber dan asal penghasilannya, yaitu kuadran S ( Self Employee / bekerja sendiri ), kuadran B ( Business Owner / pemilik bisnis ), dan kuadran I ( Investor / penginvestasi ).

Banyak pengusaha sukses maupun sebagian orang kaya di seluruh dunia menggunakan konsep demikian sebagai rujukan. Karena dengan memahaminya, berarti mereka sudah mendapatkan gambaran bagaimana langkah yang paling tepat dalam memulai suatu pekerjaan. Semisal berpindah dari pekerjaan satu ke pekerjaan lain, menambah jenis pekerjaan, maupun menentukan pekerjaan apa yang paling cocok bagi mereka. Seorang yang menginginkan pekerjaan nyaman dengan penghasilan stabil setiap bulannya, akan cenderung memilih kuadran kiri ( E dan S ). Sementara bagi seorang yang mempunyai jiwa pengusaha namun tidak ingin terikat waktu kerja dengan tingkat risiko lebih besar, pasti akan menyukai untuk berada di dalam kuadran kanan (B dan I). Setiap kuadran mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Adapun pembahasan singkat setiap kuadran dapat dijabarkan sebagai berikut:

1. E ( Employee / Pegawai )
Kuadran E biasa disebut pola karyawan. Keberadaan mereka dalam kuadran ini bekerja untuk orang lain, dan rela untuk mengganti waktu atau tenaganya demi mendapatkan penghasilan. Pada golongan Employee, biasanya mereka dapat penghasilan setiap bulan, minggu atau tergantung kebijakan. Kata “ keamanan ” dan “ tunjangan ” dijunjung tinggi di sini. Kata “ keamanan ” berarti merujuk kepada rasa takut terhadap sesuatu. Apabila seseorang merasa takut, maka keamanan menjadi hal yang lumrah, terutama bagi mereka yang termasuk di dalam golongan ini.

Bagi sebagian orang, untuk urusan uang dan pekerjaan banyak dari mereka yang tidak menyukai akan adanya rasa takut. Mereka lebih menyukai keamanan dari pada harus bermain-main dengan ketidakpastian ekonomi. Zona nyaman adalah tempat yang paling mereka sukai. Karena dengan itu, mereka tidak harus berhadapan dengan risiko yang bisa saja berpengaruh terhadap penghasilan –apabila berada di kuadran lain. Mereka lebih sering mengatakan,” Yang saya butuhkan adalah sebuah kepastian kerja, bukan hanya sekadar uang, saya akan melakukan yang terbaik untuk kemajuan usaha Anda, maka berilah saya imbalan yang pantas ”. Sebagian besar manusia di dunia yang termasuk dalam kuadran E seperti guru, karyawan, manajer, bahkan direktur perusahaan.
Gambar: facmedicine
2. S ( Self Employee / Pekerja Lepas )
Ciri khas dari kuadran S yaitu sering kali melakukan segala sesuatunya sendiri dan tidak ingin menggantungkan penghasilannya di tangan orang lain. Mereka bebas melakukan apa yang mereka mau, karena tidak ada yang berhak untuk mengaturnya. Cara mereka bereaksi terhadap rasa takut juga berbeda dengan kuadran “E”. Orang-orang “S” tidak suka untuk mencari aman yang berhubungan dengan rasa takut, tetapi mereka lebih suka mengendalikan rasa takut tersebut. Karena mereka merasa bisa untuk melakukan segala sesuatu, termasuk dalam hal mengatasi ketakutan masalah finansial.

Self Employee banyak dijumpai dalam bentuk pekerja profesional seperti dokter umum, dokter bedah, atau pengacara –yang mau menghabiskan banyak waktu untuk menempuh pendidikan akademik. Ada pula orang yang menciptakan pekerjaan bagi mereka sendiri, seperti pedagang kaki lima, tukang listrik, pedagang eceran, artis, atau tukang tata rias.

Para pekerja lepas sering mempunyai sifat perfeksionis, dimana ia ingin selalu melakukan segala sesuatunya sebaik mungkin. Mereka beranggapan tidak ada yang bisa melakukan pekerjaan sebagus mereka. Sehingga banyak kasus dimana golongan “S” sulit untuk mempekerjakan orang lain karena hal ini. Mereka lebih suka melakukan segala sesuatu dengan caranya sendiri, dan tidak suka apabila ada orang terlalu mencampurinya –sekalipun itu adalah orang yang mempekerjakan mereka. Kemandirian lebih mereka hargai dari pada sekadar uang.

3. B ( Business Owner / Pemilik Bisnis )
Berbeda dengan orang-orang dari kuadran “S” yang lebih menyukai untuk melakukan segala sesuatunya sendiri. Tapi kelompok “B” lebih suka mendelegasikan pekerjaan mereka kepada orang-orang ahli dari golongan lain. Mereka tidak suka melakukan segala sesuatunya sendiri, dan memilih untuk memberikannya kepada orang yang lebih ahli darinya. Tugas mereka hanyalah menjadi pemimpin yang mengatakan, “ Aku mau seperti ini, dan seperti itu ”, dan orang lain akan melakukan untuknya.

Seorang “S” sering kali menempatkan diri sebagai sistem bagi bisnis mereka, berbeda dengan seorang “B” yang lebih kepada menciptakan sebuah sistem. Apabila seorang “S” meninggalkan bisnisnya selama 1 tahun, maka akan didapatinya bisnisnya bisa hancur dan dia tak lagi bisa mendapatkan penghasilan. Karena mereka adalah sistem satu-satunya yang menyusun bisnis mereka sendiri. Sementara jika seorang “B” meninggalkan bisnisnya selama setahun atau bahkan lebih, uang akan terus mengalir. Dimana bisnisnya akan terus berjalan karena sistemnya sudah tercipta dan dijalankan oleh pekerjanya.

4. I ( Investor/ Penginvestasi )
Investasi adalah cara  sangat populer bagi orang yang lebih mapan dalam segi finansial. Mereka tidak ingin bekerja untuk mendapatkan uang, tetapi mereka menggunakan uang untuk menghasilkan uang. Mereka tidak perlu bekerja susah payah untuk mendapatkan uang. Karena bila cerdik, investasi dapat dijadikan sebagai tabungan, maka dengan itulah seseorang tidak perlu untuk bekerja seumur hidup.

Bentuk investasi pun sangat beragam seperti investasi saham, obligasi, tanah, atau properti. Seorang bisa dikatakan beroperasi di kuadran “I” –apabila pendapatan dari hasil investasinya setiap bulan lebih besar dari biaya operasionalnya. Semisal jika ada seorang yang menginvestasikan uangnya dengan membeli ruko kemudian menyewakannya. Maka kita bisa melihat apakah penghasilannya dari biaya sewa itu mampu lebih besar dari biaya perawatan dan biaya operasionalnya setiap bulan, atau malah sebaliknya. Apabila tidak, maka orang tersebut masih belum bisa dikatakan beroperasi di dalam kuadran “I”.
Ditulis Oleh : Arbamedia  /  M. Fais
Artikel Terkait